University of al-Qarawiyyin; Universitas Tertua Didunia
Bersama Bpk. Ary Ginanjar dan Tim ESQ EROPA dan Trainer ESQ Indonesia
Pada masa kejayaan Islam, masjid tidak hanya berfungsi
sebagai tempat beribadah saja, namun juga sebagai pusat aktivitas ilmiah.
Semenjak kelahiran peradaban Islam, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya
telah menggunakan masjid sebagai tempat pengkajian Al-Quran. Kegiatan
intelektual ini kian berlanjut setelah Rasulullah wafat, bahkan terus menyebar
ke seluruh kawasan yang telah dikuasai kaum Muslim.
Hal yang sama terjadi di Maroko, tepatnya di Fes. Di kota ini
terdapat Masjid Qarawiyyin yang berdiri pada tahun 859 M. Laiknya kebanyakan
masjid pada saat itu, masjid yang sering disebut Jami’ah Al-Qarawiyyin ini
menjadi pusat pendidikan komunitas Muslim setempat. Kajian ilmiah di masjid ini
bahkan setara dengan tingkat perguruan tinggi. Karenanya, pada tahun 1998, The
Guinness Book of Record mencatat Jami’ah Al-Qarawiyyin sebagai universitas
tertua di dunia yang hingga saat ini masih beroperasi dan terus memberikan
gelar kesarjanaan kepada lulusannya.
Walaupun memiliki predikat sebagai universitas tertua,
Jami’ah Al-Qarawiyyin bukanlah universitas pertama di dunia. Ensiklopedi
Encarta menyematkan gelar perguruan tinggi pertama pada Akademi yang didirikan
oleh Plato tahun 387 SM di Yunani. Menyusul
setelahnya Lyceum di Athena, Universitas Alexandria di Mesir, Universitas
Konstantinopel di Turki, dan Universitas Nalanda di India. 
Seiring
berjalanannya waktu dan pergantian kekuasaan, universitas-universitas tersebut
sudah sejak lama tidak beroperasi lagi. Hal inilah yang menjadikan Jami’ah
Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia dengan umur hampir mencapai
12 abad. Universitas ini lebih tua dari Universitas Al-Azhar di Kairo yang
mulai beroperasi pada abad ke-10, bahkan jauh lebih tua dari berbagai
universitas pelopor di Eropa seperti Universitas Bologna, Universitas Paris,
dan Universitas Oxford yang baru beroperasi antara abad ke-11 dan abad ke-12.
Pendiri Jami’ah
Al-Qarawiyyin adalah Fatimah Al-Fihri (? – 880 M), seorang muslimah terpelajar
sekaligus putri pengusaha kaya. Keluarga Al-Fihri adalah imigran dari Kota
Qairawan, Tunisia yang kemudian menetap di Fes bersama ribuan imigran lainnya.
Sepeninggalan ayahnya, Fatimah menghabiskan seluruh harta warisannya untuk
mendanai pembangunan masjid yang nantinya akan menjadi pusat ibadah dan
pendidikan bagi penduduk Fes.
Arsitektur Moor

Struktur bangunan
Masjid Qarawiyyin mengikuti bentuk masjid tradisional bangsa Arab yang pada
umumnya terbagi atas dua bagian, yaitu mughatta (aula shalat beratap) dan sahn
(halaman terbuka). Pada Masjid Qarawiyyin, bagian mughatta merupakan bangunan
hypostyle yang terbentuk dari deretan aisle (barisan tiang yang membentuk
sebuah lorong), sedangkan sahn Masjid Qarawiyyin berupa halaman terbuka yang
dikelilingi oleh riwaq atau portico (lorong berpilar dan beratap). Masjid Qarawiyyin yang ada pada saat ini merupakan
hasil rekonstruksi dan ekspansi yang dilakukan berkali-kali oleh sejumlah
penguasa Muslim. Pada awalnya, Fatimah Al-Fihri membangun masjid ini dengan
struktur yang hampir sama dengan Masjid Qairawan di Tunisia. Kala itu, aula
masjid atau mughatta hanya terdiri dari empat saf aisle sepanjang 30 meter,
sedangkan di sebelah barat aula tersebut dibangun sebuah sahn dan menara.
Menyikapi
pertambahan populasi penduduk Fes dan pelajar di Masjid Qarawiyyin, pada 956 M,
Pemimpin Zenata merombak dan memperluas masjid. Khalifah Umayyah dari Kordoba,
Abdurrahman III (889 – 961), menyumbangkan dana dengan jumlah yang sangat besar
untuk membiayai proyek tersebut. Perluasan pertama dilakukan dengan menambah 14
deret aisle di sebelah barat dan timur aula masjid, memindahkan sahn ke bagian
yang lebih barat, dan memindahkan menara ke riwaq sebelah utara.  Pada tahun 1135, Pemimpin Al-Murabitun, Ali bin Yusuf
(? – 1143), menambahkan tiga deret aisle pada sisi barat masjid. Dalam
perluasan kali ini, dibuat juga sebuah nave (aisle pusat) yang memotong kesepuluh
deret aisle pada aula utama. Nave ini menghubungkan pintu utama aula dengan
mihrab masjid. Perancang nave Masjid Qarawiyyin adalah dua orang arsitek asal
Andalusia yang juga merancang nave Masjid Tlemcen di Aljazair. 
Ali bin Yusuf
memerintahkan arsiteknya untuk membuat sebuah mihrab baru di bagian tengah
dinding kiblat. Mihrab masjid ini memiliki corak Kordoba dengan lengkungan
tapal kuda dan ornamen khas ijmiz-nya. Serupa dengan mihrab Masjid Kordoba di
Spanyol, ijmiz atau ornamen penghias mihrab Masjid Qarawiyyin dihiasi motif
floral, geometri, dan kaligrafi kufi khas Andalusia. Sejumlah mimbar kayu untuk
keperluan khutbah dan kuliah pun didatangkan langsung dari Kordoba. 

Satu lagi perangkat masjid yang didatangkan dari Andalusia
adalah lampu gantung (chandelier) pemberian Pemimpin Dinasti Almohad pada 1203.
Lampu ini dibuat dari hasil peleburan sebuah lonceng perunggu raksasa yang
diambil ketika Pasukan Almohad memenangi peperangan di Gibraltar. Hal-hal
tersebut menunjukkan hubungan yang kuat antara kawasan Spanyol (Andalusia) dan
Maroko (Maghribi) yang kala itu sama-sama berada di bawah pemerintahan Islam. Pada abad ke-16, Sultan Dinasti Sa’adi, Abdallah bin Al-Shaikh, turut
mempercantik Masjid Qarawiyyin. Beliau membangun dua buah paviliun kembar dan
sebuah air mancur (mathara) sebagai tempat berwudu di halaman masjid. Semua
lantai halamannya dilapisi zilij (rangkaian ubin khas Maghribi). Banyak ahli
yang berpendapat bahwa halaman Masjid Qarawiyyin merupakan representasi dari
“Court of The Lions” di Istana Alhambra, Spanyol. 
Masjid Qarawiyyin memiliki menara yang sangat khas dengan
denah berbentuk bujur sangkar. Berfungsi
sebagai tempat adzan dan observatorium astronomi, menara bercat putih ini
berdiri menjulang di tengah kota Fes. Walaupun bentuknya sederhana, menara ini
adalah cikal bakal menara bergaya Maghribi dan Andalusia yang dibangun
setelahnya: Di atas menara terdapat ruangan bernama Darul Muwaqqit yang di
dalamnya terdapat jam air Al-Lajai. Jam air tersebut dipakai untuk menghitung
waktu shalat. Selain itu, masjid ini pun dilengkapi dengan jam matahari dan jam
pasir. Secara keseluruhan,
masjid yang dapat menampung sekitar 22.700 jamaah ini dapat dikategorikan ke
dalam bangunan berarsitektur moor. Jenis arsitektur ini adalah perpaduan antara
seni Islam Afrika Utara dengan gaya Visigoth dari Semenanjung Iberia.
Karakteristik gaya moor yang terdapat pada Masjid Qarawiyyin dapat dilihat dari
muqarnas khas Maghribi dan Andalusia bernama mocarabe yang terdapat pada
gerbang dan dinding masjid, hiasan pelaster bercorak geometri dan floral pada
dinding dan langit-langit, aula hypostyle, penggunaan ubin keramik zilij,
bentuk mihrab dan mimbar yang khas, penggunaan mashrabiyya atau maqsura (sekat
pemisah dari kayu), serta penggunaan lengkungan tapal kuda, cuping, runcing,
dan lambrequin.
Pusat Pengetahuan
dan Kebudayaan Islam di Belahan Bumi Barat

Jami’ah
Al-Qarawiyyin memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan budaya dan
sejarah keilmuan dunia Islam. Sebagai masjid tertua di kawasan Maghribi,
Jami’ah Al-Qarawiyyin telah sejak lama menjadi pusat ibadah serta pendidikan
bagi masyarakat setempat. Tidak hanya itu, Qarawiyyin pun menjadi magnet bagi
para pencari ilmu dari berbagai negeri. 
Pada awalnya
aktivitas ilmiah yang ada di masjid ini hanya membahas tentang ilmu tafsir,
fiqih, dan hadis. Namun, seketika muncul beberapa kajian lain seperti
linguistik, sastra, filsafat, politik, matematika, astronomi, ekonomi, seni
rupa, dan musik. Pada abad ke-10, sebelum universitas tertua di Eropa lahir, ilmu
kedokteran dan farmasi sudah diajarkan di Jami’ah Al-Qarawiyyin. Menyusul
setelahnya kajian sosiologi, geografi, sejarah, arsitektur, teknik, psikologi,
dan berbagai cabang ilmu alam lainnya. Dengan tetap mengikuti aturan pihak
universitas, pelajar di Qarawiyyin diberikan kebebasan untuk mengambil studi
apapun yang diminatinya. Dengan demikian, lahirlah sarjana-sarjana polymath
yang menguasai lebih dari satu bidang ilmu.
Praktek kuliah di Masjid Qarawiyyin menggunakan sistem
halaqah. Dalam sistem ini, pengajar dan pelajar
duduk melingkar di lantai masjid. Pelajar pria dan wanita kuliah dalam tempat
terpisah. Mimbar-mimbar masjid sering digunakan pengajar dan ilmuwan tamu untuk
memberikan materi pada saat seminar atau kuliah dengan jumlah peserta yang banyak.
Terdapat puluhan halaqah yang menyebar di berbagai sudut Masjid Qarawiyyin,
sesuai dengan mata kuliah dan jadwalnya. Universitas Qarawiyyin pun sering
mengirimkan sejumlah ilmuwannya untuk mentransfer ilmu pengetahuan ke berbagai
universitas di dunia, seperti Universitas Bologna, Universitas Sankore,
Universitas Al-Azhar, dan Universitas Granada.
Ketika jumlah pelajar di Universitas Qarawiyyin
kian bertambah, pihak universitas akhirnya melakukan seleksi yang sangat ketat
dalam menerima mahasiswa baru. Calon mahasiswa harus menguasai Al-Quran, bahasa
Arab, dan ilmu-ilmu umum dari madrasah tingkat dasar. Selain itu, untuk
mengatasi kepadatan ruang, beberapa halaqah dipindahkan ke sejumlah madrasah di
sekitar masjid, seperti Madrasah Mesbahia, Madrasah Attarin, Madrasah Seffarin,
Madrasah Fes El Jedid, dan Madrasah Bou Inania.

Aktivitas ilmiah di universitas tertua ini tidak
dapat terlepas dari peran Perpustakaan Qarawiyyin yang berada di sebelah timur
masjid. Bahan-bahan kuliah selalu diambil dari perpustakaan ini. Tidak hanya
digunakan oleh pihak universitas saja, berbagai madrasah di sekitar Masjid
Qarawiyyin pun ikut mempergunakan perpustakaan tersebut. Hingga kini,
Perpustakaan Qarawiyyin merupakan salah satu yang terbesar di antara tiga
puluhan perpustakaan yang ada di Kota Tua Fes.
Universitas
Qarawiyyin telah melahirkan sejumlah ilmuwan Muslim yang telah memberikan
kontribusi besar pada dunia pengetahuan, di antaranya adalah; ahli geografi dan
pembuat peta, Muhammad Al-Idrisi (1099 – 1166); penjelajah, penulis, serta ahli
hadis, Ibnu Rashid Al-Sabti (1259 – 1321); geografer, Al-Wazzan Al Fasi atau
Leo Africanus (1494 – 1554); ahli teologi dan filsafat, Ibnu Al-Arabi (1076 –
1184); sastrawan, sejarawan, ahli filsafat, dan dokter, Ibnu Al-Khatib (1313 –
11374); astronom, Al-Bitruji atau Alpetragius (? – 1204); dan ahli sejarah,
ekonomi, teologi, matematika, filsafat, hukum, astronomi, militer, kesehatan,
dan sosiologi, Ibnu Khaldun (1332 – 1406).
ISESCO (Islamic
Educational, Scientific and Cultural Organization) dalam tulisannya yang
bertajuk “Fes: Capital of Islamic Culture” mengemukakan, sejumlah ilmuwan besar
Muslim asal Andalusia sempat mengajar di Qarawiyyin, di antaranya; ahli
astronomi, fisika, psikologi, musik, botani, dan kedokteran, Ibnu Bajjah atau
Avempace (1095 – 1138); ahli ilmu kedokteran dan farmasi, Ibnu Zuhr atau
Avenzoar (1091 – 1161); dan ahli filsafat, teologi, psikologi, politik, musik,
kedokteran, astronomi, geografi, fisika, matematika, dan teknik, Ibnu Rushid
atau Averroes (1126 – 1198).
Jami’ah
Al-Qarawiyyin yang menjelma menjadi sebuah universitas yang paling terkemuka di
abad pertengahan membuatnya tidak hanya diminati oleh para pelajar Muslim,
namun juga oleh pelajar non-Muslim. Ahli filsafat dan agama Yahudi ternama,
Rabbi Moshe ben Maimon (1135 – 1204) yang dijuluki oleh para penganut Yahudi
sebagai “Nabi Musa kedua” adalah lulusan Universitas Qarawiyyin. Nicolas
Cleynaerts (1495 – 1542) dan Jacob Golius (1596 – 1667) tercatat pernah belajar
tata bahasa Arab di universitas ini. Golius bahkan telah menerjemahkan buku
astronomi karya Al-Farghani dan buku kedokteran karya Ibnu Baklarech lalu
mempublikasikannya ke Eropa. Gerbert ‘d Aurillac (946 – 1003) yang kemudian
menjadi Paus Sylverster II belajar matematika dan astronomi di Qarawiyyin.
Beliaulah mempekenalkan sistem numeral Arab ke Eropa.

Kini, Universitas Qarawiyyin dibagi
menjadi sejumlah fakultas yang tersebar di empat kota besar, di antaranya Fes,
Agadir, Tetouan, dan Marrakech. Jami’ah Al-Qarawiyyin yang telah beroperasi
sejak 12 abad lalu hingga sekarang tidak pernah lelah menjadi pusat ilmu bagi
para pelajar dari berbagai negeri.

About Author

client-photo-1
ZuwainaTours

Comments